Uncategorized

dududu

hai, halo. saya ada bikin cerpen nih. beberapa kalimatnya diambil dari sisa-sisa cerpen kolaborasi saya dengan mas pikar untuk #proyekmenulis-nya @nulisbuku. cerpen tak berjudul (gak tau mau dikasih judul apa) ini dibikinnya kilat, sambil makan siang, jadi maapkeun kalau agak-agak gimana gitu 😀
enjoy!
Hari ini hujan kembali mengguyur desa. Padahal seharusnya bulan ini sudah masuk musim kemarau, setidaknya begitu yang tertulis di buku pelajaran semasa sekolah dulu. Tapi biarlah, mungkin langit memang sedang berbaik hati menemaniku menangis di sini, di depan pusaramu yang tanahnya masih berwarna kemerahan.
“Bagaimana rasanya berada di bawah sana? Gelap? Pengap? Tidak bisakah aku ikut menemanimu di dalam sana?” Kusentuh kembang yang bertaburan di atas tanah kuburmu. Saudara, tetangga, dan penduduk desa sudah pergi meninggalkan pemakamanmu sejak satu jam yang lalu. Sementara aku masih enggan untuk berdiri dan berpaling. Ibumu juga sudah kembali ke rumah, beliau akan mempersiapkan malah tahlilanmu.
Sendirian, aku masih terus saja duduk bersimpuh menatap tulisan di batu nisan sambil meraba tanah basah yang menutupi jasadmu. Hanya ada aku di pemakaman umum ini. Aku masih ingin teus menemanimu di sini. Nama itu, yang dulu pernah membuatku berbunga-bunga, kini jelas terukir di sana. Benarkah suamiku telah meninggal? Meninggal dengan tiba-tiba? Tanpa tanda-tanda dan pesan sebelumnya? Ada apa sebenarnya, mas?
“Dulu kau bilang ingin terus hidup bersamaku dan berjanji akan mati di hari yang sama, lalu mengapa kau justru pergi mendahuluiku? Dasar penghianat! Ternyata kau tidak benar-benar mencintaiku, mas!” Mendengar kekecewaanku, hujan semakin deras membasahi tubuh ini  yang sudah kedinginan. Sejak beberapa menit yang lalu hujan membasahi desa, membasahi aku yang duduk bersimpuh memarahi kamu, kematianmu, dan takdir Tuhan yang membuat aku harus menjalani hari-hari ke depannya seorang diri.
“Sungguh, hidup tanpamu tidak pernah sekalipun terlintas di pikiranku. Setiap rencana hidup ini selalu kurancang bersamamu, mas. Ada kamu di setiap sel otakku. Aku selalu percaya kita memang diciptakan satu sama lain. Tidak ada yang bisa memisahkan kita. Tapi ternyata kamu pergi, meninggalkan mimpiku, mimpimu, dan mimpi kita. Apa yang harus kulakukan setelah ini?!” Kuhapus air di wajah, tapi air mata dan air hujan seakan terus berlomba membasahiku.
“Mungkin kamu lupa akan kuasa semesta yang sudah mengatur tiap garis hidup manusia, termasuk aku, kamu, dan dia. Garisnya harus berhenti di sini, sementara kau tetap harus melanjutkan garismu ke arah yang lebih baik.” Hujan pun berhenti mengguyurku dan sebuah suara asing memasuki telingaku. Ternyata seorang perempuan dengan payung lebarnya di atas kepalaku.
“Siapa kamu?” Aku berdiri dan menjauhinya, keluar dari payungnya dan kembali merasakan air hujan di kepalaku.
“Seseorang yang juga ikut bersedih atas kematiannya,” matanya melirik makam yang kutangisi sejak tadi.
“Siapa kamu?” sekali lagi aku bertanya karena tak pernah sekalipun aku melihat orang ini. Tidak di pasar, di jalanan, ataupun di rumah. Penampilannya pun berbeda dari kebanyakan orang yang kukenal. Dari caranya berpakaian, terbaca kalau ia berasal dari keluarga yang serba berkecukupan.
“Tidakkah ia pernah menceritakan aku kepadamu?” aku menggeleng.
“Maaf, kami tidak pernah bersinggungan dengan orang sepertimu.”
“Ternyata ia memang penjaga rahasia yang baik.” Kalimatnya langsung menyulut kemarahanku. Rahasia apa yang tidak kuketahui?
“Siapa kamu sebenarnya?!” bentakku di tengah hujan.
“Mantan kekasihnya.”

Teruntuk istriku, Susi.
Maaf. Beribu maaf kuhaturkan untukmu, perempuan yang kunikahi sejak lima tahun lalu, perempuan yang selalu berusaha menjadi istri terbaik di sisiku, serta menantu yang selalu dibangga-banggakan ibuku. Sayang, maafkan aku karena sudah mengirimkan perempuan lain kepadamu. Aku tahu ketika surat ini sampai ke tanganmu, barangkali tubuh ini sudah membusuk di liang lahat, digigiti cacing tanah, dan menyatu bersama mineral lain dalam tanah. Jadi kumohon, jangan dulu membenci perempuan ini.
 Namanya adalah Fatia, seorang gadis yang kukenal sejak enam bulan lalu ketika kecelakaan motor baru saja menimpaku. Kau ingat, kan? Kala itu aku harus terlambat pulang ke rumah dengan spion motor yang pecah dan beberapa bagian body motor yang sudah penyok. Awalnya kukira semua baik-baik saja, sampai kemudian kepala ini terus-terusan terasa sakit seperti ditusuk-tusuk. Rasa sakit ini kerap menyerangku. Saat bekerja, di perjalanan, bahkan saat tidur memelukmu di rumah. Hingga kemudian, Bambang, tetangga kita, membawaku ke tempat Fatia, dokter muda yang sedang melakukan tugas di desa sebelah. Fatia bilang, ada pembuluh darah dalam otakku  yang pecah. Subdural Hematoma, katanya. Aku kaget mendengarny. Penyakit apa ini? Bagaimana cara mengobatinya? Apa yang harus kulakukan selanjutnya? Bagaimana dengan keluarga kita? Semua pertanyaan menodongku dan meminta solusi satu-satu. Hidupku jadi tak pernah tenang. Malam-malam kuakhiri dengan rasa cemas yang membelenggu, dan pagi selalu jadi waktuku bersyukur. Hari-hariku tak pernah lagi sama, Sayang, sementara aku masih saja bungkam darimu. Kuakui, Fatia banyak membantuku melalui hari-hari terberatku. Hari-hari menghitung kematianku.
Maaf. Sekali lagi, aku meminta maaf. Untuk ketakutanku menceritakan penyakit ini padamu. Untuk kelalaianku sebagai suami yang kini membuatmu harus hidup sendiri. Untuk cinta terlarang yang tumbuh menjalari hatiku. Maafkan aku jika bunga yang memekarkan hati ini kuberikan untuk Fatia, bukan kau. Ya, aku memang pengecut. Aku tak tahu harus memberitahumu dengan cara apa, memulainya dengan apa, dan mencarikan solusi seperti apa. Maka aku terus berbohong padamu, bermain peran seakan semua baik-baik saja, tidak ada yang salah, tidak ada yang berbeda.
Entah mana yang lebih menyakitkan bagimu. Mengetahui alasan kematianku atau penghianatan di akhir hidup ini. Kumohon jangan menangis, istriku. Jangan menangisi aku, lelaki yang pernah berjanji akan terus hidup bersamamu. Kau lihat sendiri, kan? Ternyata aku bukanlah lelaki terbaik yang pantas untukmu. Tuhan sudah memanggilku lebih dulu. Ia mempersilahkanmu untuk bertemu dengan lelaki lain yang pantas untuk kau, perempuan baik yang diam-diam kusakiti hatinya.
Maafkan aku karena sudah merakit bom waktu dan meledakkannya di depanmu hari ini. Aku tahu hatimu pasti terluka, pikiranmu hancur, dan emosimu mendidih. Tapi, kau tak pantas menangisiku. Mulailah hari yang baru, Susi. Mulailah kehidupan yang lebih baik tanpaku, lelaki penjual sayur keliling yang tidak pernah berhasil membuatmu bahagia. Sampaikan salamku pada ibu.
Kumohon, maafkan aku.
                                                                                                                                                        Suamimu, Syahrul

Surat terakhir dari suamiku ini membuat dinginnya hujan tak lagi bisa kurasakan. Hati ini seperti dibakar bara api. Kekecewaan menjalari sel darahku, memercikkan api kemarahaan akan penghianatan.
“Sudahlah, ikhlaskan.” Perempuan yang sejak tadi membagi payungnya itu mengelus punggungku.
“Tak perlu mengasihaniku, Fatia.”
“Susi, meskipun aku tidak pernah membaca isi surat itu, tapi aku yakin kalau mas Syahrul adalah lelaki yang baik. Dia hanya tak tahu cara untuk memberitahukan semuanya padamu. Dari awal, dia hanya berniat berobat padaku. Tapi karena ia tak sanggup menceritakannya padamu, akhirnya ia tumpahkan semuanya padaku, perempuan yang dari  awal sudah terlanjur tahu sebab dan akibat pendarahan di otaknya. Di kecelakaan itu kepalanya terbentur trotoar…”
“Sudah,” aku memotong pembicarannya, “Terima kasih sudah merawat suamiku di hari-hari terakhirnya, Fatia. Aku membencimu. Tapi justru padamulah suamiku lebih nyaman bercerita. Bukankah aku istri yang gagal, sampai-sampai suamiku sendiri enggan berbagi denganku?”
“Tidak, kau adalah perempuan baik yang tak ingin mas Syahrul sakiti hatinya.”
“Oh ya? Lalu mengirimkan kamu ke sini dengan sepucuk surat ini maksudnya apa?! Aku kecewa, Fatia! Aku marah padanya! Aku sakit hati! Tidakkah ini lebih menyakitkan ketimbang memangkas rasa takut di awal kesakitannya?!” dadaku naik turun menahan emosi, sementara air mata kembali deras mengalir.
“Aku minta maaf, Susi.”
“Kau tahu, Fatia, aku lebih memilih untuk mengetahui semuanya sejak awal. Aku rela merawat suamiku setiap hari! Jika tahu sebabnya, mungkin aku tak akan sekehilangan ini, mungkin aku sudah memikirkan apa yang harus kulakukan untuk melanjutkan hidup tanpanya, dan yang pasti, Fatia, kamu tidak akan pernah jadi duri di antara kami! Kau akan tetap menjadi dokter muda di kampung sebelah!!”
“Aku akan tetap mengabdi di sini hingga dua tahun ke depan, Susi. Maafkan aku. Jangan membenciku. Kami berdua hanya khilaf. Aku juga butuh teman di sini, sementara yang kudapatkan adalah suamimu.”
“Pergilah, Fatia.” Dan yang terdengar setelahnya hanyalah rintik hujan yang mulai reda.
“Semoga kau mendapatkan suami yang lebih baik dari mas Syahrul, Susi.”
Fatia pun berbalik lalu pergi. Punggungnya semakin mengecil seiring langkahnya menjauh dariku. Tubuh ini kembali dibasahi air hujan. gamis hitam dan kerudungku kembali basah. Aku memandang kubur suamiku lagi.

Mas, jika kau tak mampu memenuhi janji kita untuk mati di hari yang sama, maka izinkan aku untuk menepatinya. Aku tak tahu harus bagaimana setelah ini, mas. Aku ingin tetap berada di sampingmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *