Uncategorized

EPILOG – Buku yang Kau Benci

ada kesatria
di tepi hutan dia terbaring
sebelum senja merah terbanting
ialah si buta di negeri asing
melangkah kaku dan ragu menjelangi pantang dan pagi
kesatria tinta merasa bagaikan hutan yang kian gundul
kehilangan burung-burung kecintaan
hutan yang teduh terhampar di pangkuan gunung muram kelabu
sementara pedang itu masih membisu
langit menyahut dengan suara menggeram berseru
ia mengintip lewat mata sembilu, menunggu, mencari kalau ada tangan yang bersedia melepaskannya
bagi anak yang lahir di abjad baja
sebuah negeri, rahmat tak bertara
kehilangan alamat rumah sendiri di negeri kata-kata
tangannya dingin, terentang, dan mengayun
mengawasi kata demi kata, menyimpan tanda-tanda
duduk di punggung kudanya seorang kesatria tinta tercenung
sunyi yang bertahta dalam kalbunya lebih perkasa
menyuarakan bait terakhir seorang penakluk di batas senja
dalam jubahnya ia masih menggenggam pedang saktinya
tapi ia tak punya penangkal rapuhnya jasad dan sukma
sayup-sayup ia, mendengar lolong serigala mengisyaratkan
nyanyian menderu semakin merdu
menggiring kematian beribu ungkapan yang dimakamkan tanpa doa
dengan nisan serba pualam
di laut berjuta ikan menangis, air matanya menjadi samudera
kata bertahta tanpa aksara
bermahkota tanpa raja
silsilah pun bermula setelah tanda tanya
kenapa Tuhan, kenapa?
adakah kemenangan menjajikan kesucian
bagi amarah tangan penggenggam pedang
tukang jagal akan tetap tukang jagal dengan lakunya
tapi kita dapat menulis nyanyian dengan suara hujan
berlaksa nada suara dari tujuh langit dan hutan
saling bertanya bersahu-sahutan : siapakah?
ya, Tuhan. apakah Kau juga kesepian?
api menjilat-jilat dalam mimpiku hingga aku terbangun
bantal di kepalaku terbakar
selengkapnya adalah nyanyian duka semata
bergetar pada tonggak-tonggak kenangan padamu


Buku yang Kau Benci – NulisBuku

Puisi di atas menjadi penutup dari Buku yang Kau Benci, sebuah kumpulan cerpen dan puisi yang bertemakan kebencian. Antologi ini digagas oleh Putri Widi dan saya dan berhasil diterbitkan pada 2013 lalu. Menariknya, tidak akan kita temukan satupun kata “benci” dalam cerpen dan puisi di dalamnya. Loh, trus kita tahu kebenciannya dari mana, Win? Dari membaca dan merasakannya. Saya tahu kamu pernah membenci. Kamu adalah pembenci, sama seperti saya. Membenci itu manusiawi kok, sama seperti cinta. Kalau kamu pandai mengutarakan cinta, mestinya kamu juga mahir dalam merasakan benci. Jadi, tertarik untuk membaca buku ini?

Ps : selain puisi di atas, kamu juga bisa menemukan cerpen saya yang berjudul Bintang Jatuh di Buku yang Kau Benci


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *