Memanusiakan Manusia,  Senandika

Katarsis Pertama

Beberapa waktu lalu saya ikut sebuah workshop healing. Bukan sebagai peserta, tapi sebagai penyelenggara. Kala itu saya hanya ingin acara berjalan lancar, tapi ternyata Tuhan memberi lebih. Di kesempatan kali itu saya justru bertemu lalu berbincang banyak dengan seorang psikolog yang akhirnya mengubah cara pandang saya mengenai kehilangan dan keikhlasan.

Namanya Mbak Fini, seorang perempuan dan ibu yang kesehariannya diisi dengan membantu sesame untuk keluar dari masalah hidupnya. Siang itu saya menemani beliau makan. Di atas meja bundar yang letaknya di pojok ruangan itulah kemudian saya mendapat banyak sekali insight baru dari Mbak Fini. Katarsis namanya. Menurut Wikipedia, catharsis is the purification and purgation of emotions—particularly pity and fear—through art or any extreme change in emotion that results in renewal and restoration. It is a metaphor originally used by Aristotle in the Poetics, comparing the effects of tragedy on the mind of a spectator to the effect of a cathartic on the body. Singkatnya, katarsis adalah metode untuk healing di mana kita diharuskan untuk menghadapi/melawan ketakutan secara berulang hingga ketakutan itu pergi.

Lebih singkatnya lagi, menurut saya, katarsis itu detox emosi.

Hadapi semua masalah

Kadang sebagai manusia, kita kerap dilanda ketakutan. Takut kehilangan, takut kecewa, takut gagal, dan sebagainya. Rasa takut itu yang kemudian secara tidak sadar mengepung dan menghalangi kita dari banyak kesempatan. Tujuan katarsis sendiri adalah membuat kita berani menghadapi ketakutan hingga rasa takut tersebut mengecil lalu hilang.

Siang itu Mbak Fini banyak mengambil contoh masalah keluarga dan relationship sebagai studi kasus untuk menerangkan bagaimana katarsis pada saya. Salah satunya tentang klien beliau yang merupakan seorang pengidap kanker payudara stadium 3. Dan, ya seperti yang kita tahu semua penyakit fisik seringnya datang dari pikiran yang ruwet. Setelah dirunut, ternyata kanker menggerogoti tubuhnya karena si klien belum bisa menerima kenyataan bahwa mantan suaminya tidak mencintainya lagi. Sedih? Banget. Wanita tersebut sudah dua tahun bercerai dengan mantan suaminya. Ia tidak butuh waktu lama untuk memaafkan perceraian tersebut. Namun butuh usaha luar biasa baginya untuk menerima kenyataan bahwa ia tak dicintai lagi. Rasa kecewa, sedih, atau kesal itulah yang akhirnya memicu sel kanker. Sang mantan suami kemudian menikah lagi, sementara wanita tersebut masih saja terkepung oleh rasa takut kehilangan, takut untuk melepaskan, dan takut untuk merelakan hingga hembusan napas terakhirnya.

Lalu bagaimana katarsis yang benar?

Saya tentu bertanya pada Mbak Fini gimana cara katarsis yang baik because I think I need to try this method. “Hadapi saja apa yang ada di depan mata,” ucapnya lagi-lagi. Contohnya, ketika putus cinta kita sering menghindari sang mantan. Jengah rasanya bersentuhan dengan segala objek yang mengarah padanya. Katarsis bisa dimulai dengan menulis nama si mantan di kertas. Tulis sekali, dua kali, tiga kali, begitu seterusnya seperti ketika menulis janji bakal tobat saat dihukum guru. Ketika mulai terasa menyakitkan, maka berhenti. Besok ulangi lagi. Begitu terus hingga nama si mantan tak berarti lagi. Jika suatu saat bertemu teman yang menanyakan kabar mantan, maka jawab seperlunya. Hadapi meski mata berkaca-kaca. Sakit memang, tapi dengan melawan rasa sakit kita bisa jadi lebih kuat. Kalau ada barang pemberian mantan yang bikin kesal, ya pake aja. Kalau sakit, lepas. Besok pakai lagi sampai sakit. Sampai lama-lama barang itu kehilangan kenangannya. Sampai ia berubah menjadi sebuah objek. Sampai ia terasa seperti barang-barang lainnya.

Katarsis pertama saya

Seseorang pernah membuat saya takut melakukan sebuah hobi yang pernah saya cintai mati-matian, yaitu merajut. Lima tahun saya biarkan stick dan benang-benang tak terjamah. Sebab tiap kali saya ingin, rasa sakitnya masih terasa. Krenyes krenyes gitu. I never touch them for 5 years. Namun berkat belajar banyak dari Mbak Fini, saya berusaha melawan apa yang saya takutkan. Beberapa waktu lalu saya memberanikan diri membeli beberapa gulung benang dan needle baru. Kini saya sedang dalam proses pembuatan sebuah sweater. Baru seperempat sih, tapi at least ada progress yang makin bikin cepet selesaiin.

Katarsis pertama saya terasa begitu lama, apalagi di tiap gerakan tangan saya ada kenangan yang lahir dan mencekik. Tapi tak apa, bukankah itu yang dicari dari katarsis?

So here I am, on my way to move on and love myself more. Wish me luck!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *