Memanusiakan Manusia

Kenapa Kita Selalu Lebih Peduli Pada Kesehatan Fisik Ketimbang Mental?

Sejak kecil kita selalu diajarkan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh. Menggosok gigi tiap hari, mencuci tangan sebelum makan, serta menutup luka agar tidak infeksi. Bahkan hingga dewasa kini, itu pulalah yang turut kita turunkan ke anak dan cucu. 

Semua orang tampak begitu paham bagaimana cara menjaga kesehatan tubuhnya, tapi kenapa sedikit sekali dari kita yang mengerti bagaimana cara menjaga kesehatan mental? Kita selalu meluangkan lebih banyak waktu untuk menggosok gigi ketimbang me-maintain pikiran. Mengapa? Karena kita memang tidak pernah tahu bagaimana cara untuk menjaga pikiran agar tetap higienis dan bersih.
Kita selalu beranggapan bahwa kesehatan fisik selalu lebih penting ketimbang mental, itulah kenapa kitapun tak pernah mengajarkan anak cucu kita bagaimana cara untuk me-maintain pikiran mereka sendiri.

Padahal penyakit mental itu jauh lebih berbahaya ketimbang fisik, lho. Rasa kesepian, penolakan, kegagalan adalah contoh luka pada perasaan yang tidak boleh kita anggap remeh apalagi diamkan begitu saja. Bahkan jika bukan kita yang merasakannya, kita tetap tak boleh menganggapnya enteng dengan bicara, “Oh, itu kan cuma penolakan. Kamu bisa coba lain kali.” Bisakah kalian membayangkan bagaimana bicara “Oh, itu kan cuma patah tulang, nanti juga bisa jalan lagi” pada seseorang yang patah tulang kakinya?
Seharusnya kita tidak membuat jurang pemisah antara kesehatan fisik dan mental karena sudah saatnya untuk memberikan perhatian yang sama besarnya pada dua hal tersebut. Jangan lagi menganggap keresahan, depresi, dan kebiasaan berpikiran negatif adalah hal biasa sebab rasa-rasa tersebut dapat menggerogoti pikiran serta perasaan kita.
Rasa khawatir, misalnya, jika kita turuti terus menerus dapat menumbuhkan rasa pesimis dan menghambat kita menuju kesuksesan. Sakit hati karena kegalaln pun jika dituruti akan mengotori pikiran kita dengan prasangka buruk. Contoh : ada tiga orang balita dengan tiga kotak mainan berbeda. Anak pertama berusaha membuka kotak dengan memukul-mukulkan sisinya namun tak berhasil. Ia lalu cemberut dan kesal karena gagal. Balita ke dua yang melihat kegagalan temannya bahkan langsung menangis karena merasa gagal duluan sebelum mencoba. Sementara balita ke tiga mencoba segala cara, termasuk menarik tutup atas kotak hingga akhirnya terbuka. Dua anak pertama sudah lebih dulu menyakiti pikirannya sendiri dengan beranggapan gagal. Hal-hal seperti ini yang berbahaya pada tumbuh kembangnya sebab hingga dewasa nanti mereka akan terbentuk menjadi orang yang tidak berjuang sekuat tenaga untuk sukses.

Satu penyakit pikiran sangat berpotensi memicu munculnya penyakit pikiran lain. Bahkan, yang paling parah, dapat mengganggu sistem kerja tubuh serta membunuh kita secara perlahan. Penyakit-penyakit yang bersarang di pikiran dipercaya mampu memperpendek usia hingga 14%. Efek jangka panjang yang ditimbulkannya pun sama dengan efek merokok : yaitu tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan gangguan sistem imun. Bedanya, rokok datang dengan peringatan “Rokok ini membunuhmu” sementara penyakit mental tidak. 
Nah, masih mau menganggap remeh penyakit pikiran?
Saya yakin setiap orang pasti pernah mengalami keresahan, kegagalan, kesepian, dan penyakit mental lainnya. Lalu bagaimana cara untuk tetap menjaga pikiran kita higienis? Salah satu cara termudahnya adalah dengan melakukan distraksi atau pengalihan sementara selama dua menit. Pada dasarnya semua penyakit dapat dicegah. Jadi, ketika kita mulai merasa kesal dan sakit hati, maka yang harus kita lakukan adalah memaksa otak untuk memikirkan hal positif yang menyenangkan. Keluar dan jauhkanlah pikiran dari hal buruk sesegera mungkin sebelum mereka terlalu kuat lalu menggerogoti otak dan organ tubuh yang lain. Latih diri kita untuk selalu berpikiran baik dan positif dalam keadaan apapun. Tak mudah memang, namun menyembuhkan pikiran dari penyakit mental yang sudah lama menetap akan jauh lebih susah.

Dengan menjauhkan diri dari penyakit pikiran, secara tidak langsung kita juga telah menyehatkan fisik serta mental.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *