Memanusiakan Manusia,  Senandika

Ketika Semua Orang Ngomongin Jodoh


Kemarin salah seorang sahabat saya nikah. Akhirnya anggota geng Manis Manja nambah satu orang yang pecah telor. Kebahagiaan jelas menyelimuti saya beserta teman-teman seperjuangan dan sepergalauan. Tapi di balik senyum dan tawa kami yang terus mengudara sepanjang hari Minggu kemarin, sesungguhnya menggema pertanyaan pahit di dalam pikiran, “Dia udah, trus gue kapan?”

Well, kalau saya yang bertanya kayak gitu, teman-teman yang lain pasti langsung ngomel, “Yaelah, Cil, kamu kan masih muda, kita ini lhoo yang udah tua masih aja belum punya pacaaaaarr!” Emang sih umur saya dan teman-teman lain bedanya 2 tahun (salahkan emak yang menyekolahkan saya di SD sejak umur 5 tahun), tapi kan tetap saja saya udah tergolong perempuan yang ke mana-mana ditanya “Calonnya mana?”
Huft.


Apalagi dulu di umur yang sama dengan saya saat ini ibu saya sudah menikah. Tekanan tidak hanya datang dari luar tapi juga dari dalam rumah. Sebenarnya ibu nggak melulu tanya sih, tapi tetap saja saya ngerasa beban juga. Ditambah lagi saudara sepupu dan teman main semasa kecil udah pada nyebar undangan dan beberapa sudah mulai berkembang biak.
Seram. Kenapa semua orang tiba-tiba berkeluarga? Apa cuma saya di sini yang ke mana-mana sendiri dan masih suka ngemil lolipop?
Gara-gara kata “jodoh” pula kini hidup saya jadi tak sebebas sebelumnya. Mau ketemu teman lama jadi mikir dua kali karena malas menjawab pertanyaan, “Jadi kamu sama siapa sekarang, Wino?” atau “eh, kabar si itu gimana sekarang? Kamu masih sama dia? Kalau udah enggak, kenalin ke aku dong?” Gila ya, dulu rasanya ada bwanyaaaak banget bahan obrolan yang menarik, tapi kenapa sekarang semua perbincangan selalu bermuara ke soal cowok? Mau bahas fashion kek, acara TV kek, teknologi, bahkan itinerary jalan-jalan ke indonesia timur pun ujung-ujungnya diakhiri oleh kalimat, “Ah, tapi semua bakal lebih seru dilakukan bersama pasangan.”
Duh, Gusti T.T
Sekarang saya jadi bingung sendiri. Di early-twentyini yang ada dalam kepala saya masihlah kebebasan dan keingintahuan untuk mencoba berbagai macam hal baru. Di pikiran saya menikah itu masih jauh banget. Belum kepikiran mau nikah dengan laki-laki model apa,  setelah nikah mau tinggal di mana, dan bla bla bla. Sebenarnya salah nggak sih pola pikir macam ini?
Saya pernah mengungkapkan kegelisahan ini ke seorang teman. Dan, dengan santainya dia menjawab, “jodoh itu bisa datang tanpa disangka-sangka. Saat ini mungkin lu masih nggak peduli sama jodoh, tapi bisa jadi bulan depan lu sebar undangan nikah dan ngeduluin kita-kita.”
Auk ah, gelap! >.<

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *