Uncategorized

Mengenal Eni Martini : Perempuan dengan Dunianya Sendiri

Eni Martini


Perempuan adalah makhluk yang super kompleks, baik dilihat dari pemikiran maupun perasaannya. Apa-apa yang terlihat dari luar tak selamanya menggambarkan semangat yang menggema di kepala dan balik dadanya. Itu pulalah yang saya yakini ketika menulis dan mengulas soal Eni Martini, perempuan yang sekilas wajahnya mirip guru geografi saya ketika SMA dulu tapi ternyata adalah seorang (mantan) penulis bergenre horror. Jauh banget ya antara geografi dan dunia ghaib hahahaha. Eh, tapi serius lho, beneran mirip sama guru saya yang bernama bu indar itu. Senyumnya, gaya berpakaiannya, sampai lucu-lucunya pun sama.. Pokoknya mirip banget! Kapan hari pas Mbak Eni nyeritain sejarah pertemuan, pernikahan, sampai malam pertama dengan suaminya di grup Arisan Link aja saya ngakak banget. Ketawa-ketawa geli.
Eh, harusnya kan saya nggak ketawa ya, soalnya belum pernah tahu. Masih polos. Masih unyu. Masih jom – oke, gitulah ya intinya.

Btw, pada penasaran nggak sih kenapa saya menulis judul seperti di atas?
Please, penasaran aja dong biar saya bisa lanjut nulis.
Oke, penasaran kan, pemirsah?
Jadi, alasan saya menyebut Mbak Eni punya dunia sendiri adalah..
karena blio
memang bisa
merasakan kehidupan
di dunia
yang berbeda
dari kita.
JRENG!!
Sering diminta membuat tulisan horror oleh penerbit memaksa mbak eni untuk lebih peka terhadap sekitar. Ketika sedang jalan, misalnya, jika menemukan tempat menarik maka akan ia jadikan setting cerita horrornya. Sayangnya kepekaan tersebut justru membuat mbak eni kerap merasa bertemu dengan mereka-mereka yang alamnya berbeda dari kita. Serem banget! >.< itulah kenapa dari dulu sampai sekarang saya paling nggak bisa nulis horror, selain takut bakal disamperin dan digodain, pada dasarnya saya emang nggak jago-jago banget nulis. Kasihan ntar para hantu-hantu itu kalau saya nggak bisa menggambarkannya dengan baik.
Selain menulis buku, Mbak Eni juga pernah diminta untuk menuliskan script film bergenre sama. Dan, seperti yang kita tahu, nulis script itu beda banget dari nulis buku. Mesti dibayangkan serta dituliskan secara detail. Bagaimana ekspresi dan dialog pemarin, gerakannya, settingnya, waktu, sampai hantu-hantunya pun harus dijelaskan secara rinci. Pengalaman yang didapat pun ternyata makin seru, alias makin sering aja ketemu yang aneh-aneh. Kadang ada yang malu-malu dan caper lewat suara tapi ada juga yang kepedean dan muncul terang-terangan. Ashoy!

Karya Eni Martini

Namun pengalaman-pengalaman mistis tersebut kini sudah Mbak Eni tinggalkan. Meski katanya honor yang didapat dari menulis cerita horror itu lumayang besar, tapi blio udah nggak mau lagi bersinggungan dengan makhluk dari dunia tetangga. Udah cukup main-main sama makhluk-makhluk tersebut. Itulah kenapa sekarang Mbak Eni memindahkan dunianya ke bidang kepenulisan lain, seperti blog, cerpen, dan novel romansa. Tuh, kan, emang lebih enak bahas cinta-cintaan deh daripada hantu-hantuan.
Sekarang, perempuan asal Jogja yang kini menetap di Jakarta tersebut mengisi hari-harinya dengan aktif menulis fiksi, menjadi juragan toko buku online www.bliblibuku.com, serta penggerak komunitas penulis & calon penulis @BAWCommunity. Oh iya, ada satu hal lain yang saya kagumi dari Mbak Eni, yaitu keunikan nama ketiga anaknya, yaitu Cahyaning Lintang Kinasih, Pijar Bintang Ramadhan, (alm) Khalil Muhammad Gibran, dan Anakku Pendar Sadewa. Duh, pada bagus-bagus bangeeeeettt!! >.< Gmz!

Bawaannya bikin pengin cepet-cepet punya anak trus ngasih nama yang bagus-bagus kayak ketiga bocahnya Mbak Eni deh. Huft. Tapi perjuangan pertama aja belum tuntas sampai sekarang : mencari suami. Nyari di mana deh? Saya nyari di blognya Mbak Eni di www.duniaeni.com nggak nemu, di Twitternya @duniaeni juga nggak ada, di Facebook Eni Martini apalagi, bahkan ke akun Goodreadsnya Eni Martini pun nihil. Hiks. Masa aku harus nyari ke dunia sebelah sih? T.T

8 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *