Uncategorized

Mengenal Evrina Budi Astuti : Perempuan yang Mencintai Bumi Sejadi-jadinya

Evrina Budi Astuti
Saya lahir dan besar di hutan. Not literally hutan layaknya Tarzan sih. Tapi di tahun 90an dulu, Kalimantan memang masih kawasan hutan. Penduduk di sana masih sangaaaat sedikit karena salah satu pulau terbesar di dunia tersebut hanya diisi oleh warga lokal dan para transmigran dari tanah Jawa. Makanya nggak heran kalau masa kecil saya banyak dihabiskan dengan blusukan ke hutan, mendaki bukit, dan berendam di sungai. Bayangkan aja, di belakang komplek tempat tinggal saya ada banyaaaak sekali bukit-bukit hijau yang selalu menggoda untuk didaki. Pulang sekolah – kalau nggak disuruh bobo siang – saya biasanya akan ambil sepeda lalu kabur ke atas bukit sama teman-teman. Ngapain ke bukit? Gak ngapa-ngapain sih, paling ngemilin buah-buahan dari pepohonan yang tumbuh liar di atas sana. Nongkrong sambil ngobrolin kartun paling hits di masa itu sambil pura-pura lupa soal PR untuk besok.

Kebetulannya lagi, ayah saya dulu kerja di Berau – jauh dari Samarinda, kota di mana saya dan bunda menetap. Jadi kalau ada libur sekolah, saya biasanya berkunjung ke Utara Kalimantan sana untuk melihat lincahnya orangutan bergelantung dari satu pohon ke pohon lain, gesitnya babi hutan berenang menyebrangi sungai, dan seramnya biawak yang tiba-tiba muncul di pintu belakang mess. Seru dan menyenangkan. Tapi untuk sampai di sana dibutuhkan perjuangan ekstra, mulai dari naik pesawat kecil, speedboatberjam-jam, lalu perjalanan darat yang nanjak nggak habis-habis demi bisa sampai camp. Rumah di Berau letaknya emang di atas banget, mepet jurang pula. Salah-salah melangkah bisa jatuh terpental ke daratan berkerikil di bawah atau hanyut terbawa arus sungai deras.
Pengalaman semasa kecil saya diramaikan dengan meengksplor alam indonesia yang super apik. Namun sayangnya setelah pindah ke Surabaya, saya nggak pernah berhasil membagi cerita-cerita tersebut ke teman-teman yang kebanyakan lahir dan besar di kota. Makanya ketika menemukan blog Evrina Budi Astuti beberapa bulan lalu, saya langsung bahagyaaaa~. Hal ini karena cerita atau artikel tulisan Mbak Ev nggak pernah jauh dari petualangan mengeksplor bumi. Cucok, bok! 

Kalau lagi buka blog blio, bawaanya langsung ingat yang dulu-dulu, meskipun sadar diri kalau yang saya daki hanyalah bukit-bukit kecil sementara yang Mbak Ev taklukkan adalah gunung-gunung bermedan berat. Udah gitu blio juga sering menulis soal dunia pertanian dan lingkungan – mengingat ybs berprofesi sebagai Penyuluh Pendamping Lapangan atau PPL. Pokoknya seger banget deh kalau main ke blognya Mbak Ev. Sejauh mata memandang pasti dapet artikel-artikel seputar gunung, sawah, dan budidaya tumbuhan. Plus, tampilan blog Mbak Ev yang minimalis juga bikin mata saya betah lama-lama berkunjung di blognya.

Dari sekian banyak cerita seputar agrikultur, yang saya suka adalah tips-tips seputar Budidaya Sayuran di Pekarangan. Sebenarnya saya bukan perempuan yang jago bercocok tanam sih, wong ngerawat kaktus aja nggak bisa – kalau nggak busuk ya mati layu. Tapi rasanya senang ngebaca-bacain tulisan Mbak Ev tentang gimana cara pembibitan, merawat, sampai cara memanen. Dulu artikel tersebut pernah saya ceritakan ke ibu, harapannya ibu saya mau ikut-ikutan berkebun di belakang rumah. Sayangnya ibu malah bilang, “Ya sudah, Mbak Nona aja yang belajar bikin.”
T.T
Kalau dari kisah tentang pendakian, yang paling saya suka adalah perjalanan mendaki Rinjani. Walaupun belum kelar tapi saya senang baca cerita tetang tiap jejak yang berhasil Mbak Ev lalui. Rasanya udah kayak baca komik Detektif Conan deh, ditungguin terus petualangan selanjutnya bakal ketemu rintangan dan keseruan apalagi. Dari foto-fotonya juga seru-seru banget. Banyak yang bikin mupeng >.< tapi dari segala kemupengan, mendaki bersama suami itu sih yang paling bikin iri >.< Jarang-jarang soalnya nemu cerita bisa menaklukkan medan berat bersama orang tercinta, biasanya kan sama teman-teman doang.
Mendaki Rinjani


Gimana, udah mulai kagum sama Mbak Evrina belum? kalau sudah, selamat! Kalau belum, tenang, Mbak Evrina punya kehebatan lain di samping jago mendaki gunung dan bercocok tanam kok, yaitu ngeblog. Ibu dari seorang bocah laki-laki lucu nan imo3tZ ini juga terkenal sebagai pemenang lomba blog lho! Ciyus! Dapat hadiah henpon dari ngeblog, pernah. Jadi tamu undangan #KopdarPamitan Pak SBY karena blog juga pernah. Bahkan Mbak Ev juga pernah menang jalan-jalan ke Cina berkat lomba blog! Hebat beneeerrr siiihhh!! 180 derajat sekali sama saya yang nggak pernah hoki ikut lomba-lomba gituan. Paling banter juga dapat kiriman shampoo T.T duh, Mbak Evrina, angkat saya jadi muridmu, Mbak. *berlutut*
Kalau kalian nggak percaya, coba buktikan sendiri deh. Klik aja link blognya Mbak Evrina di http://www.evrinasp.com/, atau mau cek ke Instagramnya di @evrinasp, kalau mau stalking Twitternya juga di @evrinasp.Saya yakin habis itu kalian pasti bakal mupeng banget ngelihat panjangnya daftar achievement yang berhasil di raih oleh perempuan yang juga bisa disapa Rina ini.
Kzl kzl gmn gt rasanya.


Oh iya, dulu sebelum mengulik lebih jauh, saya kira nama panjang Mbak Ev itu Ervina Sp lho, ternyata bukan hahahaha. Nama aslinya adalah Evrina Budi Astuti. Lho trus SP itu apa, win? Adalah gelar pendidikan blio, yaitu Sarjana Pertanian. Ih, oon banget deh saya padahal punya banyak teman yang lulusan SP IPB juga tapi nggak ada kepikiran ke sana sama sekali hahahaha. 

2 Comments

  • Evrina Budiastuti

    iya SP itu sarjana pertanian, jarang yang bangga jadi sarjana pertanian, kalau saya bangga banget makanya gelarnya dipake hehe. makasih mbak atas reviewnya, saya belum pernah ke Kalimantan, doakan ya semoga saya bisa kesana. saya pengen banget merasakan hijaunya kalimantan. masa kecilmu sunggu indah mbak ditemani alam yang masih asri, walaupun sekarang sudah di kota semoga masih bisa merasakan kesejukan dunia, hehe. salam kenal ya mbak

  • Winona Rianur

    Sama-sama, mbak. Saya juga belajar banyaaaak banget dari blognya MbakEv 😀 ayo mbak nunut saya ke Kalimantan, tapi untuk bisa lihat bagian yang asri harus blusukan jauh dari pusat kota

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *