Uncategorized

Miroir #10

Sudah dua minggu berlalu sejak pertengkarann Lala dan Sita itu. Sita berungkali berusaha menghubungi Lala dan Denish dari segala arah namun tak sekalipun terbalas. Ditelpon, disms, diBBM, bahkan hingga di jejaring sosial. Semua usaha Sita seakan dianggap angin lalu oleh Lala dan Denish. Sita hanya ingin minta maaf karena telah menghancurkan semuanya, tak lebih. Ia bahkan tak peduli jika permintaan maafnya kelak tidak diterima, yang penting semuanya dibicarakan bersama terlebih dahulu.
Ponselnya berbunyi.
“Sit, lagi nganggur? Main ke rumah yuk?” Djenar menyapa dari seberang percakapan.
“Lumayan nganggur sih. Ada apa ya?”
“Ada Macaroni Scottel plus ekstra keju nih, kamu pasti suka. Ajak Ibu Bapak juga ya. Udah lama gak ketemu kan?”
“Waahh, oke, siap! Segera kesana!” Sita mengiyakan dengan semangat.

Nduk, kamu sudah punya pacar?” Sita kaget mendengar pertanyaan Ibu hingga terbatuk dan hampir menelan permen karet yang daritadi dikunyahnya.
“Belum, Bu.”
“Ndang dicari toh, Nduk. Coba liat mas Rendimu itu, wes nduwe bojo, hidupnya enak. Kemana-mana gak sendiri lagi, ada yang diajak berbagi gitu kan enak toh?” Ibu memulai wejangannya. Sita menarik napas panjang. Sosok Denok kembali hinggap di pikirannya. Kalau saja Denok bukanlah Denish, pasti akan berbeda jawabannya.
“Iya, Bu. Doain aja. Ini juga lagi usaha.”
“Oh ya? Siapa laki-laki itu, Nduk?” Tanya Ibu makin antusias.
Mbok ya dikenalin ke Bapak sini lho.” Kali ini giliran Bapaknya yang angkat bicara.
“Sudah hilang orangnya, Bu, sudah pergi jauh, Pak. Sita mau cari yang lain aja.”
“Hoo, yo wes. Apa mau ibu carikan? Ada tuh si Arip anaknya Bu Widodo, temen pengajiannya Ibu. Anaknya apik, pinter ngaji juga.”
“Arip yang cengeng itu ta bu? Lhoo, anak kita ojok dike’i sing koyo ngunu lha. Anak mami gitu anaknya.” Tolak Bapak.
“Pinter ngaji lho Pak, murah senyum juga.” Ibu tetap bersikukuh.
“Tapi manja, Bu, anak cowok itu gak boleh manja. Gimana bisa jagain Sita kalau dia gak bisa jaga dirinya sendiri toh? Kerjaane nduselin ibu’e terus.”  Sementara itu Bapak terus menolak.
“Udah, udah.. ntar Sita cari sendiri aja. Udah sampe di rumah Rendi nih.”
Sita memperbaiki hijabnya lewat kaca spion tengah lalu turun dari mobil. Dilihatnya Djenar melambaikan tangan dari pintu rumah. Bayangan Macaroni Scottel sudah membayanginya.
Sebelum masuk ke rumah Sita sempat menoleh  ke arah keramaian di salah satu rumah milik tetangga Rendi. Beberapa mobil berjejer dan semua wanitanya berkebaya warna warni, sementara itu semua laki-lakinya berbatik. Mungkin ada hajatan, pikir Sita dalam hati.
Ia masuk ke rumah dan berpapasan dengan Rendi.
“Gile, cakep amat, Bro! Mau kemana?” Ia melihat Rendi bepakaian rapi dengan batik bermotif linier warna cokelat.
“Tuh, mau ke acaranya tetangga. Beneran udah rapi nih?” Rendi berputar di depan Sita.
“Sip! Acara apaan sih? Kok Djenar gak ikut?”
“Lamarannya si Denok. Masih inget Denok kan? Yang aku kenalin ke kamu kapan hari itu loh. Dia ngajak aku ikut ke rumah si perempuan hari ini buat lamaran.” Rendi kemudian duduk di ruang tamu dan memakai kaos kaki dan pantofel hitamnya.
Jantung Sita seperti berhenti berdetak. Hari ini kah lamaran itu? Lala sama sekali tidak memberitahu dirinya.
“Nah, udah sip deh. Mau titip salam sama Denok? Ucapan selamat atau apaaaa gitu?” Rendi menawarkan.
“Titipin ucapan selamat aja deh, Ren. Ngomong-ngomong kamu kenal sama pacarnya Denok?”
“Enggak. Gak pernah dikenalin juga, maklum si cewek kuliahnya jauh. Katanya sih cantik, kita liat saja perempuan secantik apa yang mau sama si Denok ini, hahaha. Yaudah aku berangkat ya, udah ditungguin tuh.”
Sebentar lagi kau akan tahu, Ren, wanita beruntung itu adalah Lala. Iya, Lala yang sama-sama kita kenal baik.
Rendi kemudian pamit pada istrinya, kedua orang tuanya, dan kedua orang tua Sita. Semuanya titip ucapan selamat untuk Denok. Sebelum pergi Rendi sempat menepuk pundak Sita, seakan turut prihatin dengan kedukaan gadis itu.
“Aku berangkat ya, Adikku. Ntar salamnya aku sampein ke Denok. Have a nice day.”
Rendi kemudian pergi bergabung ke dalam keramaian, sementara Sita? Ah, siapa yang peduli dengan dirinya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *