Uncategorized

Miroir #7

Sita mengetuk-ngetukkan jarinya di meja sambil sesekali memperhatikan cermin kecil yang selalu ia bawa kemanapun. Playlist di café itu sedang memutar lagu-lagu hits di top chart, seperti Maroon 5, The Script, The Wanted, dan One Direction. Lumayan membunuh waktu, pikir Sita dalam hati. Diliriknya ponsel yang ia taruh di meja. Pesan BBM yang ia kirim ke Denok dari semalam belum juga berubah status dari D ke R. Sudah hampir seminggu lelaki itu tak ada kabarnya, bahkan untuk ngobrol ngalur ngidul dengan Sita seperti biasanya pun ia tak punya waktu. Apakah Denok sudah dapat pekerjaan yang ia inginkan? Kalau iya mengapa ia tak memberi kabar ke Sita? Tapi siapa Sita bagi seorang Denok sambai perlu dikabari segala? Ssshhhh…
Jam berwarna hijau toska yang menggantung di dinding bernuansa pastel itu menunjukkan pukul 16.45, seseorang yang ia tunggu sejak 45 menit yang lalu belum kunjung tiba. Mangkuk yang tadi berisi es cream red velvetnya sudah kosong, potato chipsnya pun tinggal remah saja. Namun Sita belum mau berdiri dan pergi. Sita tahu orang itu akan datang.
Tik. Tok. Tik. Tok.
Di kepala Sita, jarum detik berdetak lebih nyaring dari playlist musik yang terputar. Ada kebosanan menaunginya, ditambah beberapa tatapan aneh dari pelayan café yang tertuju kepadanya. Sita memutar ponselnya lagi. Mana sih?
“Halo, Darling! Aaaakkk akhirnya kita ketemuuu!!” Lala yang baru datang segera menghambur masuk dan memeluk Sita dengan erat, erat, dan semakin erat. Sita tidak protes, ia biarkan rasa kangen yang telah lama mereka pendam mengalir tersalurkan. Kangennya Sita ke Lala dan kangennya Lala ke Sita. Biar terbalas semuanya.
Dua sahabat itu pun sama-sama tertawa. Kini kebosanan telah tegantikan oleh kebahagiaan.

“Tiga tahun, Laaaa! Kamu udah kaya artis aja sih sekarang? Kebanyakan gaul sama bule ya?” Sita memperhatikan Lala dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Keliatan kaya artis ya emangnya? Hahaha. Ya gimana dong disana kan isinya bule semua Sit, masa iya aku mainnya sama kangooro? Ya sama bule laahh. Gimana kabar? Ih makin cantik deh si tembem. Pantes deh ditaksir sama siapa tuh yang kemarin kamu ceritain?”
“Denok.”
“Yups! Denok! Ah, time flies ya Sit. Rasanya dulu kita masih SMA, sekarang udah segede gini aja.”
“Aku kayanya emang makin gede deh la, makin lebar kemana-mana hahaha.”
“Yee, bukan itu maksud aku. Oh iya, ini oleh-oleh buat kamu. Semoga suka yaa..”
Gaya ceriwis Lala seketika meleburkan suasana, rasanya menyenangkan, ada kegembiraan dimana-mana. Sahabat Sita itu telah banyak berubah secara fisik, rambutnya lebih panjang dan berwarna kecoklatan, bola matanya kini dihiasi soft lense, dan kuku jari tangannya kini dihiasi kuteks lucu warna-warni. Tapi perubahan fisik tersebut tidak merubah kepribadian Lala sama sekali. Sama sekali. Ia masih seperti Lala yang dulu, yang cerewet, yang selalu bersemangat, yang selalu tersenyum manis kepada siapa saja.
Sita menyentuh oleh-oleh dari Lala, sepasang gantungan kecil berbentuk Opera House dengan motif unik dipinggirinnya. Yang satu berwarna magenta dan yang satunya lagi berwarna biru. Bagus. Setelah itu Lala juga memberikan sebuah sweater untuk Sita dengan motif mini floral, cantik sekali. Sita bolak balik mengucapkan terima kasih, namun hanya dibalas tersenyum oleh Lala.
Keduanya kemudian menceritakan banyak hal selama mereka tidak bertemu, tentang teman-teman SMA dulu, tentang kuliah masing-masing, hingga tentang keluarga mereka. Ada tawa, ada kepiluan, dan ada kenangan yang berputar mengelilingi Sita dan Lala sore itu. Keduanya larut dalam cerita masa lalu, seakan tak rela sang waktu membawa kenangan itu pergi menjauh.
Sita bercerita dengan gaya lempengnya dan Lala berkisah dengan gaya ceriwisnya. Mereka berdua tidak butuh playlist yang terputar di café kecil itu. Karena dengan seorang sahabat saja mereka sudah merasa cukup bahagia.
“Aku punya kabar bahagia.. sangat bahagia!”
“Apa itu?” Sita mendekatkan telinganya ke Lala.
“Aku mau tunangan.” Jawab Lala berbisik. Mata Sita terbeLalak. Ia kaget bukan kepalang.
“Sama Denish?!” Lala mengangguk sumringah. Dalam waktu dekat Denish akan melamarnya, lelaki yang sudah memacarinya dua tahun belakangan ini akan melamarnya!
“Oh my God I’m happy for you, Darliiiinnnggg!! Ya ampun… Kapan? Aku bisa bantu apaa? Astaga ini kabar bahagia banget namanya!”
“Iya, memang. Hahaha. Tanggalnya masih belum pasti, yang jelas dalam waktu dekat ini sebelum aku balik ke Sydney. Aaaahhh, aku beruntung banget punya Denish. LDR memang susah, tapi akhirnya kita tetap bersama. Kaya fairy tale gak sih, Sit? Kenal dia gara-gara 3 tahun sekelas pas SMP dulu, trus sempet ketemu lagi sebelum aku berangkat ke Sydney, habis gitu nekat aja pacaran jarak jauh, dua tahun kemudian akan tunangan. Emang seru banget kisah cintaku, hahaha.”
I envy you, Madam. Sebenernya. Tapi aku turut senang! Yaaa, meskipun sampai sekarang aku belum pernah tau wujudnya Denish itu gimana.”
“Ah, jangan deh, kamu gak boleh liat, ntar naksir lagii.. Aku pacar yang cemburuan lho, untung Denish sabar ngadepin aku. Trus Denoknya kamu gimana?”
“Apanya yang gimana?”
“Ya hubungan kalian? Udah sampe tahap mana? Kapan jadian?”
“Hahaha, gak tau deh, La. Udah seminggu ini dia susah dihubungi. Belum juga cinta ini mekar, eh udah layu aja.”
“Duileh bahasa kamu kaya pujangga aja. Hahaha. Dia single kan?”
“I guess. Belum tanya. Aku ngerasa dekat sih sama dia, sudah tiga bulan lebih. Tapi ya gini-gini aja. Gak lebih.”
Friendzoned! Positif!” tanpa pikir panjang Lala memvonis hubungan Sita – Denok sebagai friendzoned, terperangkap di zona pertemanan. Sita menarik napas panjang. Akhirnya kata itu muncul juga, status yang sesuai dengan keadaannya sekarang. Lala pencetusnya.
“Gak tau deh, La. Ngasihin oleh-oleh dari kamu ke dia juga aku gak tau gimana caranya lha wong sekarang tiba-tiba ngilang gini.”
“Yang tegas dong, Sit. Kalian udah deket kan? Harusnya kamu tegaskan ke dia, hubungan kalian ini mau dibawa kemana. Kalau emang mau lanjut, ya ayok bareng-bareng. Kalau nyerah, ya udah jalan sendiri-sendiri. Jangan ngambang kaya sampah di kali.” Sita terkekeh mendengar perumpamaan Lala. Benar. Semua yang dikatakan Lala tidak salah. Masalahnya terletak pada pertanyaan ‘siapkah Sita menegaskan semuanya ke Denok? Kalau memang Denok memilih mundur, siapkah ia merelakan Denok pergi?’
“Menurutmu Denok sayang aku yang gendut kayagini gak?”
“Kenapa enggak? Siapapun akan terlihat cantik jika kita mencintainya. I love you, bagiku kamu luar biasa.”
Sound wrong deh la hahaha.”
“Gih, buru ditegaskan deh. Aku kasih deadline ya, di tunanganku nanti kamu udah harus bawa Denok! Harus! Kalau gak, kamu mending ngambang aja di kali.”
“Issh, kampret! Hahaha. Oke, I’ll try.”
Waktu seakan berlari ketika kita asik berbincang dengan sahabat. Tanpa terasa jam toska yang menggantung di dinding bernuansa pastel itu menunjukkan pukul 20.58.
Di minggu berikutnya Sita tanpa sengaja melihat sosok Denok di sebuah toko kaset. Tanpa pikir panjang Sita segera menegur lelaki itu. Ia rindu. Sudah dua minggu lebih tidak mendapat kabar dari Denok.
“Denok, hai? Apakabar?” Denok kaget mendapati Sita di hadapannya.
“Hai, Sit, ngapain disini?”
“Mau nyari deluxe album ketiganya The Script aja sih. Kamu?”
“Jalan-jalan aja, hehehe. Ada apa nih by the way?” pertanyaan Denok seperti memukul perasaan Sita. Ada apa? Tidak sengaja bertemu di toko kaset memangnya kenapa? Bukankah sebelumnya mereka juga pernah pergi bersama?
“Mau tanya kabar aja sih, sekalian mau ngasihin ini nih.” Sita memberikan gantungan kunci berbentuk Opera House berwarna biru ke Denok.
“Oh, buat apa ya Sit?” Denok bertanya dengan muka polos.
“Biar kamu bisa inget aku aja kali ya, hahaha. Simpen aja. Kamu sibuk banget ya? Susah banget dihubungi belakangan ini.”
Well, okay, thanks ya. Iya, sibuk deh Sit pokoknya.”
Tiba-tiba ponsel Denok berbunyi dan raut wajah lelaki itu segera berubah.
“Aku balik ya Sit, thanks ya gantungannya. Bye.” Denok lalu pergi ke luar toko, meninggalkan Sita yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Rasanya kebas. Denok tidak lagi melempar lelucon kepadanya, Denok tidak lagi suka mengobrol dengannya, dan Denok meninggalkannya begitu saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *