Uncategorized

Miroir #8

Malam minggu. Sita sudah menyerah menghadapi sikap Denok yang aneh belakangan ini. Karena merasa bosan, ia pun mengirimkan pesan singkat ke Lala.
Sita : La, ngapain?
Sent.
Dua puluh menit kemudian Lala baru membalasnya.
1 new message received
Lala : Mau makan malam sama Denish, ngerayain dua tahunan 😀 why, Darla?

Sita : Nope, enjoy yours 🙂
Sent.

Lala yang biasanya selalu bersamanya pun kali ini meninggalkannya sendirian di malam minggu ini. Sita mematikan lampu kamarnya dan memilih tidur lebih awal.

“Enaknya pesan apa ya? Uuummm..” Lala memperhatikan daftar menu salah satu restoran Sushi murah meriah malam ini.
“Yang ada salmonnya aja enak, Sayang. Yang ada keju dan rumput lautnya ini juga enak. Trus yang pake udang ini juga enak. Nah, ramennya juga juara disini. Oh iya, saladnya juga gak boleh ketinggalan.” Telunjuk Denish melompat dari gambar satu menu ke menu lain. Mata Lala mengikuti.
“Ya ampun Sayang, kamu suruh aku pesan sebanyak ini? Mau bikin aku melar di lamaran nanti?”
“Hahaha, kan cuma ngasih tau menu yang enak.” Denish menjawab sambil tersenyum. Ada cinta bertaburan di sekita mereka berdua.
“Hmm, kamu aja yang pilihin deh Sayang, aku bingung.” Lala menyerah, Denish hanya tertawa. Denish lalu memanggil pelayan dan menyebutkan pesanan.
Malam ini Lala dan Denish merayakan tahun ke dua masa pacaran mereka. Siapa yang menyangka kalau dua bocah yang berteman baik di bangku SMP itu kini saling mencintai? Bahkan beberapa hari lagi mereka akan melangsungkan lamaran. Akan ada sepasang cincin yang melingkari jari dua sejoli ini.
“Aku kangen kamu, tau gak? Kamu udah ada di sini pun aku masih kangen. Balik ke Sydneynya diundur sampai tahun depan aja bisa kan, Sayang?” Denish menatap lurus ke mata Lala, teman masa kecilnya yang kini sudah menjadi gadis cantik.
“Lebay deh Sayang, bentar lagi kuliahku juga kelar kan? Doain aja kuliah cepat selesai jadi cepat balik ke Indo biar bisa ketemu kamu tiap hari. ngomong-ngomong ntar aku pake kebaya apa ya? Deg-degannya dari sekarang nih. Aku belum pernah tunangan soalnya.”
“Lha kamu pikir aku pernah? Hahaha. Ini juga pertama kalinya aku melamar perempuan Sayang, dan perempuan itu kamu. Bagi aku, kamu mau pake kebaya model apa aja tetep cantik. Pacarku ini dari khayangan, mau dipakaikan baju model apa saja tetap bagus.”
“Pret ah, Sayang, hahaha.”
Tak lama pesanan mereka datang, meja kecil yang mereka tempati mendadak penuh oleh piring-piring kecil yang berisi Sushi. Lala cukup kaget mellihat jumlah porsi yang dipesan Denish, terlalu banyak untuk dua orang saja. bahkan mungkin Sita yang gemuk tidak sanggup menghabisi semuanya, apalagi Lala yang sedang dalam program diet.
“Kamu pesan banyak banget? Diet aku gagal lho ntar.” Lala manyun.
“Aku sayang kamu, la. Mau gendut kek aku gak peduli, ngeliat kamu di depan aku kaya malam ini aja udah anugerah banget. Jauh dari kamu itu nyiksa lho. Nikmatin aja apa yang sepantasnya kita nikmatin. Okay?” Lala hanya mengangguk menurut, ia tak mampu berkomentar. Ucapan Denish tadi membuatnya jatuh cinta sekali lagi.
Lala mengambilkan sepasang sumpit untuk Denish. Ia juga mengambilkan washabi untuk kekasihnya itu. Malam ini Lala ingin mereka berdua jatuh cinta lagi sebelum melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius.
“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri gitu?” Tanya Denish sambil melahap sepotong Sushi Shrimp Roll.
“Enggak apa-apa, Sayang. Aku bersyukur banget ya dapet kamu. Aku sayang kamu banget, tau gak?”
“Enggak, yang aku tau.. Aku yang lebih sayang ke kamu.”
What?No! aku yang lebih sayang ke kamu.. Sayangku sebesar dunia angkasa! Tak terkalahkan.” Sanggah Lala dengan mulut penuh.
“Hmmm, kalau sayangku ke kamu hanya selebar penglihatan.” Jawab Denish dengan nada datar.
“Sempit banget?”
“Sempit? Ya enggak lah. Aku kan manusia biasa, Sayang, mau jalan ke mana aja ya cuma bisa lihat apa yang masuk dalam pandangan mata.”
“Oke, terus? I didn’t get the point.”
“Mau kemana pun aku pergi, yang aku lihat selalu kamu. Aku melihat pake hati.” Denish menunjuk dadanya sendiri. Berusaha meyakinkah Lala bahwa ia mencintai gadis itu sepenuh hati.
“Oh. Gak keren perumpamaannya.” Dan pernyataan cinta Denish harus mental karena Lala meresponnya dengan muka lempeng. Denish tertawa terbahak-bahak, sementara Lala terus saja melahap potongan Sushinya sambil sesekali menaruh telunjuknya di ujung bibir, meminta Denish untuk sedikit lebih tenang.
Satu jam kemudian mereka berdua baru mampu menghabiskan semua yang dipesan. Lala sudah terduduk kekenyangan di kursinya, ia bersender ke pundak Denish sambil mengusap perut yang hampir meledak. Sementara itu Denish masih dalam keadaan baik-baik saja.
Denish mengusap lembut kepala Lala yang sedang bersandar ke bahunya. Rasanya ingin sekali mengabadikan momen sederhana tapi membahagiakan seperti ini. Tidak perlu ada jarak lagi yang memisahkan mereka, tidak perlu ada perbedaan waktu, dan komunikasi tak perlu terhambat hanya karena ongkos yang mahal. Ia ingin terus begini bersama Lala.
“Sayang, bentar deh. Aku mau ngambil sesuatu di mobil.” Ucap Denish perlahan. Lala kemudian mengangkat kepalanya yang berat. Denish segera ke parkiran dan mengambil tas ranselnya.
Lala tidak berkomentar sama sekali ketika  Denish datang membawa tasnya.
“Ada sesuatu yang special di dalam sini.” Ucap Denish dengan sumringah sambil menunjuk tas ranselnya.
Lala memperhatikan dengan seksama tas ransel itu dari segala sisi, tiba-tiba ia menemukan sesuatu yang mengagetkan. De javu. Ia seperti mengenali gantungan kecil di tas Denish.
“Ini apa?” tanya Lala
“Kado buat kamu, kan perayaan tahun ke dua kita. Aku buatin album foto kita berdua dari SMP sampe sekarang, aku bikin pake tangan loh, Sayang.”
“Bukan, maksud aku, ini apa?” Lala menyentuh gantungan kecil berbentuk Opera House berwarna biru. Denish ikut menoleh dan terdiam sejenak.
“Oh, itu dari temen aku. Lupain deh, mending kita buka kad..”
“No..No.. Denish! Oh my God!” Lala menggelengkan kepalanya lalu menunjuk wajah Denish dengan telunjuknya. Denish kaget dengan perubahaan sikap Lala. Bahkan mata Lala berkaca-kaca.
“Ada apa, Sayang?” Denish berusaha menenangkan Lala yang akan menangis.
“Astaga! Bisa-bisanya aku sebodoh ini! Bisa-bisanya aku dipermainkan kalian!” Kini air mata Lala turun memebasahi pipi ranumnya. Ada hati yang remuk malam ini.
“Ada apa, Sayang? Kamu kenapa?!”
“Gantungan itu dari Sita kan?! Iya kan?!” Tangis Lala tumpah. Denish terdiam. “Aku memang bodoh, den. Aku lupa kalau nama kecilmu itu Denok! Aku lupa, bodohnya aku lupa!!” Denish tetap terdiam dengan pikiran penuh. “Aku…aku yang membelikan gantungan itu untuk Sita, Den.. Aku yang mencarinya keliling Sydney, mencari gantungan couple langka agar Sita dan Denok terlihat berbeda.. Sita mencintaimu! Sita menunggu Denok! Dan aku lupa kalau Denok itu kamu! Aku bodoh, Den!” Para tamu dan pelayan mulai menoleh ke arah mereka.
“Den, jujur sama aku. Kamu sempat jalan sama Sita kan? Padahal kamu tau Sita itu sahabatku! Kenapa, Den? Kenapaaa? Kenapa kamu harus kasih Sita harapan?!”
“Ak..aku hanya menganggapnya teman, La. Dan aku gak tau kalau Sita yang ini adalah Sita sahabatmu.”
“Bohong! Brengsek kamu, Den! Kamu bilang jarak bukan perkara susah, tapi kenapa saat aku jauh kamu malah pergi dengan perempuan lain?! Kenapa harus ada Sita di tengah kita?! Brengsek kamu!!” Lala berdiri lalu pergi meninggalkan Denish dengan air mata yang masih mengalir. Malam ini Denok tertampar. Ia baru saja mematahkan hati kekasihnya. Sialan kau, Sita! Untuk apa kau mengharapkan sesuatu yang lebih dari hubungan kita?!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *