Uncategorized

Miroir #9

Di hari minggu ini kedua orang tua Sita sedang pergi ke luar kota untuk menghadiri undangan salah satu rekan kerja ayahnya. Sejak pagi ia hanya diam di dalam rumah, ingin keluar tapi tak tau mau kemana. Inginnya main ke rumah Rendi agar bisa bertemu Denok, tapi sepupunya itu belum membalas smsnya dari pagi.
Seseorang mengetuk pintu rumahnya. Sita yang tengah duduk menonton tv sambil makan es cream pun berdiri lalu mengintip dari balik jendela. Ia tersenyum lalu membukakan pintu untuk pengetuk tadi.
“Silahkan masuk, maaf berantakan.” Sita tersenyum lalu masuk ke dapur untuk menaruh es cream ke Freezer. “Ada apa? Apa yang bisa aku bantu? Mumpung lagi free nih.”
“Gak ada, Mbem.” Lala berkata pelan.
“Oh iya, kamu mau minum apa?”
“Gak usah repot-repot Sit, aku sebentar banget kok.” Lala menarik Sita untuk kembali duduk. Ada keheningan panjang yang kemudian muncul di tengah mereka.

“La?”
“Denokmu apa kabar? Gantungan kecilnya udah dikasihin ke dia? Gimana ketemuannya?”
“Udah, kemarin gak sengaja ketemu di toko kaset. Kabarnya dia masih gak jelas, masih gak bisa dihubungin. Kalau di tunanganmu nanti aku beneran gak bisa datang sama Denok, gimana dong La?”
“Ya ga usah dateng.” Lala menjawab datar. Sita hanya terdiam, ada yang tidak beres dengan sahabatnya ini.
Lala mengambil tasnya, merogoh sesuatu di dalamnya dan menyerahkan gantungan kunci Opera House berwarna biru. Sita terperanjat, napasnya seperti tertahan. Air mata Lala turun satu per satu, membuat Sita semakin bingung mengapa sahabatnya ini menangisi gantungan kunci Denok
“Kamu ketemu Denok? Kok bisa? Kenapa gak bilang kalau ketemua Denok? Aku kan juga kangen sama dia, la. Trus ini gantungannya kok bisa ada di kamu? Kamu kenapa nangis, La? Ada apa, La?” Air mata Lala turun satu per satu, membuat Sita semakin bingung mengapa sahabatnya ini menangisi gantungan kunci Denok.
Lala berdiri dan mengusap air matanya.
“Iya, aku ketemu Denish kemarin.”
“Denish? Tapi apa hub..”
“Denishku itu Denokmu, Sit!” Sita mengerutkan keningnya.
“Kamu bercanda, La.”
“Oh ya? Apakah ini terlihat lucu? Kamu mau menertawakannya? Menertawakanku? Lalu menertawakan kami? Denok itu panggilan kecilnya Denish! Kamu kenal Denish dari Rendi kan? Rendi itu teman main Denish dari kecil kan?!” suara Lala meninggi, menggema di rumah Sita yang tengah kosong. Hati Sita rasanya copot. Denish dan Denok ternyata orang yang sama? Bagaimana mungkin?
“Gak mungkin.” Sita menggeleng.
“Gak mungkin apanya?! Denok yang gak mungkin jadi punyamu atau Denish yang gak mungkin jadi punyaku?!” Lala melotot kea rah Sita.
“Tapi, La.. Kemarin pas kita ketemu..”
“Aku memang bodoh, kamu mau bilang itu kan?! Iya aku emang bodoh, Sit. Aku lupa kalau Denok itu ya Denish! Silahkan tertawa!”
“La, aku..”
“Pokoknya mulai sekarang kamu jauh-jauh dari Denish! Aku gak nyangka ternyata selama ini kalian main api di belakangku!! Aku sayang kalian berdua, aku sayang kamu, aku selalu berusaha memberikan yang terbaik buat kamu.. Tapi kenapa harus Denish, Sit? Kenapa harus Denish yang mau kamu ambil dari aku?! Sebegitu mengenaskannya kah dirimu sampai mengambil milik sahabatmu sendiri?!” Lala mulai tidak bisa mengatur emosi, sementara Sita hanya duduk tertunduk di sofa sambil melirik ke gantungan kecil itu. Denok adalah Denish, lelaki yang akan melamar Lala sebentar lagi. Kepalanya pening memikirkan hal itu.
“Aku selalu mengalah dari kamu, Sit. Dari dulu! Kamu selalu lebih pintar di bidang akademik dariku, aku rela! Kamu selalu bisa menyanyi dengan bagus, sementara aku tidak pun aku tetap rela! Dan ketika kamu jatuh cinta, aku selalu mendukungmu, aku ingin kamu bahagia!” Lala mulai sesenggukan. “tapi kali ini aku gak rela kamu merebut Denish dari aku, dia calon suamiku!!”
Sita kemudian ikut berdiri, berusaha menenangkan Lala yang terus menangis.
“Gak usah sok care! Kamu itu jahat, Sit.. Aku kira kita sahabatan, ternyata kamu nusuk aku dari belakang!”
“La, dengerin dulu, aku gak tau kalau Denok itu Denish.”
“Kenapa kamu gak bertanya?! Aku sudah berulang kali menyuruhmu bertanya?! Kamu terlalu takut kehilangan Denok, kan?! Kamu menutup mata! Kamu gak peduli sama aku! Aku ini pacar Denok, Sit! Aku ini calon istrinya! Tega kamu!”
“Aku tahu, La. Aku tau Denish itu milikmu.”
“Kalau tahu kenapa harus sampai begini, Sit?! Bahkan nama panjang Denok pun kamu gak tahu kan?! Denishku, Sit, yang kamu puja-puja itu Denishku!! Kamu gak pedulikan perasaanku?!”
“Aku peduli sama kamu!” Sita mulai meninggikan suara juga, matanya sudah berkaca-kaca.
“Omong kosong, Sita!!” Lala segera berbalik arah dan keluar dari rumah Sita.
Hati Sita nyeri, tak karuan sakitnya. Hati yang telah ia jatuhkan ternyata tidak akan pernah ditangkap Denok, karena lelaki itu telah lama menggenggam hati Lala, sahabatnya sendiri. Air mata Sita kemudian tumpah di ruang tamu yang kosong itu. Gantungan kecil biru itu hanya terdiam, seakan menjadi saksi bisu kisah pilu tiga anak manusia. Kepala Sita mendadak kosong, ia tak bisa berpikir tentang apapun. Ia tak tahu harus bagaimana selanjutnya, ia tak tahu harus menaruh muka dimana ketika bertemu Lala dan Denok di lain waktu, dan ia tak tahu bagaimana harus meminta maaf kepada keduanya. Mereka akan bertunangan sebentar lagi dan Sita baru saja menggoreskan luka di hati sepasang kekasih itu.
Sita, kenapa kamu selalu bodoh dalam hal cinta?!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *