Kata dalam Buku

Segeralah Membaca Buku

sumber gambar
Dewasa ini kita bisa mendapatkan informasi apa saja dan dari mana saja. Nggak perlu capek-capek baca buku dan menelusuri tiap kalimat demi bisa mendapatkan informasi yang kita cari. Cukup dengan sebuah device dan koneksi internet, rasanya kita sudah menggenggam dunia. Ya nggak? Coba pikir deh, mau tahu kabar pemilihan presiden Amerika Serikat tinggal buka situs portal berita. Mau tahu cara bikin kue untuk ulang tahun pacar bisa cari di YouTube. Mau tahu kabar kekinian seputar artis bisa buka Facebook dan Twitter. Butuh hiburan? Ada film dan musik. Materi belajar di sekolah / kampus pun bisa di dapat di Wikipedia. Mau meningkatkan skill? Tinggal sign up ke beragam online course yang belakangan menjamur. Bahkan, mau menikmati cerita fiksi pun sekarang bisa dengan audio-book. Mudah kan? Nggak ribet mesti nenteng-nenteng buku, nggak perlu ngerasain pegal di pundak akibat keberatan bawa buku, dan nggak harus susah-susah menjaga buku agar tak lecek, kotor, maupun basah.
Nggak usah bohong deh, kamu juga Generasi 2.0 yang selalu nempel sama smartphone kan? Tenang, kamu nggak sendiri kok. Meskipun tahu cerita dalam novel selalu lebih baik dari film, masyarakat kita lebih rela antre panjang di bioskop ketimbang di meja kasir toko buku. Meskipun sadar kalau informasi yang sliweran di timeline lebih banyak hoax-nya, kita  tetap aja enggan mencari kebenaran di perpustakaan. Dan, udah tahu buku itu jendela dunia, kita masih aja mencari-cari jalan lain untuk melihat ke luar. Hasilnya masyarakat sekarang kena sindrom malas-mencari-tahu-tapi-lagaknya-paling-tahu.
Hal ini tentu berkaitan erat dengan hasil penelitian UNESCO yang menyebutkan kalau indeks minat membaca masyarakat Indonesia baru mencapai angka 0,001. Artinya, dari setiap 1.000 orang Indonesia hanya ada 1 orang saja yang punya minat baca.  Bayangkan, ngapain aja tuh 999 orang lainnya. Bahkan jika merujuk data yang pernah dikeluarkan Badan Pusat Statisitik (BPS) dijelaskan bahwa sebanyak 91,68 persen penduduk yang berusia 10 tahun ke atas lebih menyukai menonton televisi dan hanya sekitar 17,66 persen yang menyukai membaca dari berbagai sumber seperti surat kabar, buku, atau majalah. Miris ya melihat negara berpenduduk 250 juta jiwa ini lebih suka menikmati informasi dalam bentuk gambar bergerak ketimbang rajutan kata. Padahal minat baca masyarakat sangat mempengaruhi kemajuan bangsanya lho. Kalau masyarakatnya saja masih enggan membaca, bagaimana mungkin Indonesia mampu bersaing dengan negara lain di mana buku begitu dihargai.
sumber gambar
Jadi, kenapa sih minat baca kita masih rendah? Hmm, atau pertanyaannya diubah deh, kenapa sih kita harus membaca buku? Menurut Prof. DR. Henry Guntur Tarigan dalam bukunya yang berjudul Menulis Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa, membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh setiap orang. Dengan membaca kita bisa mendapatkan informasi terbaru tentang lingkungan sekitar, memperdalam ilmu pengetahuan yang sesuai dengan minat, serta melatih kecerdasan linguistik. Membaca membuat kita bisa pergi keliling dunia tanpa perlu beranjak dari tempat duduk, merasakan banyak pengalaman menarik yang barangkali nggak bakal kita alami sendiri di kehidupan nyata, dan melatih kita untuk lebih cerdik saat memecahkan masalah. Percaya deh, membaca itu super duper menyenangkan!
Bagi saya sendiri, membaca itu adalah proses kreatif di mana kita ditantang untuk mengembangkan imajinasi bermodal 26 huruf dan tanda baca. Membuat dunia sendiri, hidup dalam pikiran tokoh, dan menikmati tiap ups and downs kehidupannya. Ikut merasa senang, sedih, dan cemas. Hanya dengan menelusuri tiap kata yang tercetak, semua terasa begitu nyata. Kota-kota yang menjadi setting cerita langsung tergambar jelas seakan kita benar-benar hidup di dalamnya. Bertemu dengan orang-orang jahat, para penolong, dan mempelajari watak mereka. Semua terasa ajaib. Saya bisa jadi siapa saja, berada di mana saja, serta merasakan apa saja. Dan, ketika buku akhirnya harus tertutup, BOOM! saya kembali ke dunia yang sebenarnya. 
sumber gambar
Saya suka membaca buku sejak kecil. Dulu kedua orang tua saya gemar membacakan dongeng sebelum tidur untuk Winona cilik. Kisahnya beragam, mulai dari fabel hingga legenda, dari pertarungan luar angkasa sampai putri yang terjebak di dalam istana. Beragam judul buku anak bergambar berjajar rapi di rak buku rumah kami – beberapa di antaranya bahkan masih saya simpan hingga sekarang. Kebiasaan orang tua ini lah yang kemudian menstimulasi saya untuk membaca sendiri kisah-kisah mengagumkan yang tersimpan dalam buku. Keingintahuan membuat saya suka berdekatan dengan buku. Tebal halaman bukan jadi masalah, sampai 1.200 halaman pun tak apa. Genre apapun tetap saya baca, mulai romance hingga self felp, fiksi maupun non fiksi. Di saat anak-anak lain lebih suka baca komik kung fu, saya lebih suka membaca kisah penunggang naga. Saat teman menggilai game console, saya juga mulai menggilai kehidupan di Hogwarts. Kala para anggota geng malam mingguan di mal, saya justru kencan sama Steve Jobs lewat buku biografinya. Saat yang lain gusar ketika diminta menunggu, saya justru anteng bersama buku – satu barang yang hingga kini selalu saya bawa ke manapun. 
Banyak teman dan kenalan yang bilang saya ini book addict. Gara-garanya tiap kali ulang tahun dan ditanya mau kado apa, saya sering jawab buku. Kalau ada film adaptasi yang tayang di bioskop pun katanya saya rese karena suka membanding-bandingkan film dengan novelnya. Keluarga di rumah juga suka ngomel tiap mendapati buku saya tergeletak di mana-mana – dari ruang tamu hingga dapur. Saya juga punya sisi delusional yang kerap naksir sama tokoh fiksional – yang satu ini suka dikeluhkan gebetan. Dan, katanya saya ini posesif banget sama buku. Kalau ada yang mau pinjam langsung berubah galak. Awalnya sih saya nggak percaya sama istilah book addictwell, somehow I fell this book addict thing as a new sexy sih. Tapi bukannya semua pembaca buku juga begitu, yakin saya dalam hati. Namun setelah baca artikel ini akhirnya sadar ternyata saya beneran book addict yang nggak bisa jauh dari buku. Ya gimana dong, buku itu udah kayak sahabat terbaik yang siap mengantarkan saya ke manapun dan bertemu banyak hal baru. 
Al-Jahizh, seorang cendekiawan Afrika – Arab pun ternyata mengamini pendapat saya. Ia pernah bilang bahwa, “Buku adalah teman duduk yang tidak akan memujimu dengan berlebihan, sahabat yang tidak akan menipumu, dan teman yang tidak membuatmu bosan. Dia adalah teman yang sangat toleran yang tidak akan mengusirmu, dia adalah tetangga yang tidak akan menyakitimu, dan dia adalah teman yang tidak akan memaksamu mengeluarkan apa yang Anda miliki. Dia tidak akan memperlakukanmu dengan tipu daya, tidak akan menipumu dengan kemunafikan, dan tidak akan membuat kebohongan. Dengan buku Anda akan mengetahui sesuatu hanya dalam sebulan, satu hal yang tidak bisa Anda dapatkan dari mulut orang selama satu masa.”
Tuh, dengerin, bersahabatlah dengan buku, jangan sama lawan jenis sampai terjebak friendzone.
sumber gambar
Eh, tapi pada tahu nggak sih keuntungan membaca buku dari sisi kesehatan? Jadi, menurut para neurolog, membaca buku mampu membuat kita jadi lebih sehat, lebih pintar, bahkan lebih kurus! Nah, lho. Menurut Ken Pugh, PhD, otak kita itu perlu olahraga dan dilatih layaknya organ tubuh lainnnya. Cara teroptimal untuk terus menyehatkan pusat saraf kita tersebut adalah dengan membaca buku. Ada bagian di dalam otak yang mengaktifkan fungis visual, bahasa, dan belajar saat kita menelusuri tiap kata dalam buku – which is very challenging. Dengan membaca otak kita akan awet muda – salah satu alasan untuk menjauhkan diri dari kepikunan atau Alzheimer. Bahkan menurut penelitian yang dilakukan Dr David Lewis membaca mampu menurunkan level stress sampai 68 persen. Tertinggi jika dibandingkan dengan kegiatan mendengarkan musik (61%), menyesap teh atau kopi (54%), dan berjalan-jalan (42%). Menurut para neurolog tadi, ketika membaca buku kita hanya perlu duduk tenang dan berpikir. Dalam enam menit saja detak jantung akan lebih tenang dan tekanan darah akan berada di posisi normal. Losing yourself in a book is a ultimate relaxation.
Saya turut merasakan dampak baik tersebut sih. Terbiasa bergaul dengan buku sejak kecil menjadikan saya sebagai orang yang tidak mudah panik. Saya yakin semua ada sebab akibatnya. Segala masalah ada solusianya. Selalu ada titik terang di ujung jalan, mau segelap apapun jalan di hadapan. Yang perlu dilakukan hanyalah tetap tenang dan menjadi pemecah masalah ketika kebuntuan datang. Tidak usah grusak grusuk, karena jagoan dalam buku-buku yang saya baca tak pernah seperti itu. Nggak percaya? Hmm, mungkin 26 alasan lain untuk lebih sering membaca buku ini bisa meyakinkanmu.
sumber gambar
Selain itu, membaca buku juga memberikan pengaruh besar pada kemampuan berbahasa kita. Semakin banyak baca, makin banyak kosakata baru yang dilepajari. Tanpa sadar kata-kata baru itu akan diserap otak, tersimpan di database memory, dan mendadak pop-up ketika kita mencari-cari padanan kata yang tepat untuk menjelaskan sesuatu. Tiba-tiba muncul, bikin kaget, namun akhirnya kagum sendiri. Konon katanya kecerdasan seseorang dapat dinilai dari caranya berbahasa. Pekerja yang memiliki artikulasi dan kemampuan berbahasa yang baik cenderung lebih mudah mendapatkan promosi pekerjaan. Mereka yang kaya kosakata juga diyakini lebih percaya diri ketika berbicara di hadapan umum. Orang yang gemar membaca juga pasti memiliki banyak pengetahuan, satu hal penting yang bisa membuatnya berkenalan dengan orang banyak hebat, membuka kesempatan, dan membawanya menuju kesuksesan.


Why I read a book a day (and why you should too): the law of 33% | Tai Lopez | TEDxUBIWiltz

Kamu kenal Bill Gates, Steve Jobs, atau Oprah? Orang-orang yang namanya selalu digaungkan karena kemampuannya mengubah dunia itu juga adalah pembaca buku. Mereka belajar dari kisah orang lain, mengaplikasikannya ke kehidupan masing-masing, dan akhirnya mampu menginspirasi banyak orang di dunia. Setiap orang sukses pasti punya kisah sendiri. Dari mereka kita bisa men-download pelajaran dan pengalaman berharga. Tentu, menjadikan mereka sebagai mentor kehidupan kita adalah hal yang mustahil. Karena itulah mereka menulis buku agar kita-kita yang masih bingung mendesain kehidupan ini mendapatkan pencerahan, menjadi tahu apa yang harus dilakukan dan dihindari, agar nantinya bisa menjadi sesukses mereka. Orang sukses itu tak pernah pelit berbagi pengalaman. Itulah kenapa mereka menyebarkan cerita lewat buku. Dan, karena itu pulalah kita harus membaca kisah-kisah tersebut. Nah, sekarang pertanyaannya, kamu ingin menginspirasi dunia seperti mereka atau tidak? Kalau mau, segeralah membaca buku.

Saya sendiri merasakan banget enaknya baca buku. Selain memuaskan diri, membaca juga membuat saya tergerak untuk menulis. Dimulai dari cerita sehari-hari hingga kisah fiksi. Dengan menulis saya bertemu dengan banyak orang baru, baik itu pembaca maupun sesama penulis. Kalau saja orang tua saya dulu nggak suka membacakan dongeng sebelum tidur, mungkin saya nggak akan pernah bertukar kado buku di Klub Buku Surabaya, menjadi anggota Forum Lingkar Pena Surabaya, dan buku saya nggak akan pernah tersimpan di Perpustakaan MPR RI. 

dokumen pribadi

Serius deh, membaca itu nggak ada ruginya. Apapun alasan di kepalamu yang bilang kalau membaca itu nggak enak atau membosankan, sesungguhnya hanyalah rasa malas belaka. Kalau sekarang kamu masih bisa langganan paket internet tiap bulan hingga ratusan ribu, kenapa kamu nggak bisa beli buku? Ayo lah, sayangi otakmu. Jangan dibuat mati hanya karena kamu lebih suka kepoin kabar artis di social media. Kalau emang nggak punya bujet untuk beli buku silakan pergi ke perpustakaan terdekat. Cari buku yang menarik perhatianmu, fiksi maupun non fiksi. Tenggelamkan pikiranmu dalam kata-kata. Biarkan imajinasi pergi menculikmu dari dunia nyata. Bebaskan pikiranmu dari kepenatan yang membelenggu. Nantinya kamu akan sadar kalau ada tautan tak kasat mata antara kata-kata dan isi kepalamu. Sesuatu yang ajaib namun bukan sihir, memabukkan tapi bukan alkohol, dan bikin deg-degan padahal bukan gebetan.
sumber gambar
Saat ini Indonesia butuh generasi muda yang gemar membaca buku, bukan sekadar membaca status Facebook atau artikel di situs portal berita. Minat baca negara kita harus ditingkatkan jika tak mau tertinggal dan terus-terusan jadi negara berkembang. Sebagai anak muda, seharusnya membaca buku tidak kita dijadikan momok. Buang jauh anggapan kalau baca buku itu membosankan, kuno, dan ribet. Buku itu berat? Lah, emang powerbank dan segala device yang tiap hari kita bawa itu nggak berat?
Nih, saya kasih tau ya, beberapa hal yang menyebabkan minat baca masyarakat Indonesia terlihat sangat memprihatinkan jika dibandingkan negara lain. Jadi, salah satu alasan kenapa minat baca kita rendah adalah sistem pendidikannya. Yeah, I blame the school. Kurikulum dan pengajar di negeri ini tidak pernah mewajibkan siswanya untuk menamatkan beberapa buku semasa sekolah seperti yang dilakukan di banyak negara maju. Guru-guru di sana sengaja menjadikan buku sebagai salah satu tolak ukur kelulusan demi mengembangkan minat baca generasi mudanya. Jerman, misalnya, mewajibkan siswanya untuk manamatkan membaca buku hingga 22-23 buku. Semakin banyak buku yang dibaca dan di-review, maka semakin tinggi pulalah nilah pelajaran Bahasa mereka. Bandingkan dengan Indonesia yang paling mentok hanya menyuruh siswanya membaca cerpen-cerpen dalam buku pelajaran. Nggak heran kan kalau dalam lingkup kawasan ASEAN saja Indonesia menjadi negara yang minat bacanya jauh tertinggal.
Selain rendahnya motivasi membaca dari sekolah, di rumah pun peran orang tua dan keluarga untuk meningkatkan minat baca anak dinilai masih sangat kurang. Dewasa ini masyarakat kita lebih suka membelikan anak-anaknya smartphone dan / atau tablet ketimbang buku bacaan. Alasannya beragam, ada yang bilang harga buku itu mahal, beberapa berpikiran kalau gadget akan membuat anak lebih anteng, sementara sebagian berpendapat kalau buku tidak akan memberikan dampak bagi kehidupan anak selanjutnya. Tentu ini keliru. Sebagai orang tua seharusnya kita mampu memotivasi dan meningkatkan minat baca anak, misal dengan membacakan mereka dongeng sebelum tidur atau mengajak anak membaca buku bergambar bersama. Dengan begitu imajinasi anak akan terasah dan keingintahuannya akan hal baru akan terus meningkat. Dari sinilah minat membaca muncul. Keingintahuan membuat kita membaca. Membaca membuat kita berilmu. Sementara berilmu berarti menjadi generasi yang berguna bagi kemajuan bangsa.
Hal lain yang membuat minat baca masyarakat indonesia tidak juga meningkat adalah kurangnya akses buku gratis. Sebagai negara berkembang, wajar rasanya jika masyarakat kita menganggap buku sebagai kebutuhan tersier. Toh tanpa buku tidak akan mati. Pemikiran ini jelas harus diperbaiki. Untuk menumbuhkan minat baca, Indonesia perlu memperbanyak perpustakaan agar masyarakat dapat lebih mudah bertemu dengan buku gratis. Dan, sebagai orang yang paham akan pentingnya membaca, kita juga bisa lho membuat perpustakaan umum sendiri. Jika tak punya ruang, kita bisa bantu mencerdaskan bangsa dengan cara berdonasi, baik uang maupun buku. Dulu saya pernah mengajar di sebuah panti asuhan yang letaknya di belakang kampus. Saat pamitan setelah satu semester mengajar, saya menghadiahkan beberapa buku dongeng bergambar untuk murid-murid. Reaksinya? Nggak usah ditanya deh, mereka pasti senang. Anak kecil itu dikasih apa saja pasti gembira. Masalahnya justru di orang dewasa seperti kita, maunya memberi mereka hal baik atau justru hal buruk.

dokumen pribadi

Itu kan kamu ngajar, Win? Kalau di sekitar saya nggak ada anak kecil yang bisa dikasih buku, gimana? Tenang, kamu bisa berdonasi ke tempat-tempat seperti Buku Untuk Papua, sebuah gerakan yang digagas oleh beberapa anak muda indonesia yang ingin mencerdaskan anak-anak Papua lewat buku. Semua buku yang ada di perpustakaan Buku Untuk Papua memang hasil donasi dari seluruh Indonesia dengan kriteria tertentu. Atau, kalau belum mampu berdonasi, cara aktif untuk meningkatkan minat baca masyarakat bisa dengan mengajak orang-orang di sekitar untuk mau datang ke perpustakaan.
sumber gambar
Sebagai negara yang telah 70 tahun merdeka sudah seharusnya kita mampu mengembangkan diri dengan meningkatkan minat baca. Untuk mewujudkannya dibutuhkan bantuan dari semua pihak, baik pemerintah, swasta, serta keluarga di rumah. Jika semua elemen peduli dan mendukung masyarakat untuk meningkatkan minat baca, maka tak lama lagi akan bermunculan banyak penulis, menjamurnya toko buku, dan banyak lahir buku-buku inspiratif yang dapat mencerdaskan generasi mendatang. Sudah saatnya generasi muda Indonesia menjadi book addict dan menyebarkan virus membaca buku ke sekelilingnya. Bayangkan betapa menyenangkannya Indonesia nanti ketika penduduknya tak melulu menunduk menatap layar smartphone, namun justru saling membahas gagasan hebat yang baru saja mereka temukan karena terinspirasi oleh sebuah buku. Tak ada lagi keluhan ribet bawa buku ke mana-mana sebab kita sadar mencari colokan listrik untuk charge smartphone itu lebih sulit. Obrolan di masyarakat tak lagi soal kelompok mana yang paling benar, melainkan mencari cara bagaimana meningkatkan toleransi. 
Sudah terbayang? Apakah tampak menyenangkan? Jika iya, segeralah membaca buku.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog dalam rangka Ulang Tahun Ke Lima Penerbit Stiletto Book dengan tema Book Addict Is The New Sexy. Stiletto sendiri merupakan sebuah penerbit buku perempuan yang mendedikasikan diri menerbitkan buku-buku fiksi maupun nonfiksi.

sumber gambar

Nama : Winona Rianur
Twitter : @winonarianur
Instagram : winonarianur
Email : winona.rianur@gmail.com

15 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *