Uncategorized

The Book Thief

Dear W,
Semalam aku menonton The Book Thief, sesuai judulnya, film ini berkisah tentang gadis muda yang beberapa kali mencuri buku dari perpustaakan kecil milik seorang bangsawan. Setting film ini di jerman pada masa perang dunia kedua. Liessel, begitu dia biasa disapa oleh keluarga angkat dan sahabat laki-lakinya, Rudy. Oh iya, soal Rudy, dia adalah anak laki-laki berambut pirang yang menyenangkan. Hobinya adalah bermain bola dan berlari. Obsesi keduanya setelah menjadi pemain bola handal adalah mengalahkan Liessel dalam berlari. Taruhannya selalu sama, kalau Rudy menang, ia berhak mencium Liessel, tapi kalau imbang atau kalah, ia tak mendapatkannya. Sayangnya hingga akhir napasnya, ia tak berhasil mencium Liessel. Ups, spoiler! Rudy adalah sahabat yang sangat bisa diandalkan lho, W, terbukti ia tetap menjaga rahasia tentang Liessel dan keluarganya yang menyembunyikan satu orang yahudi di basement rumah mereka. Rudy mirip kamu, W, perbedaan kalian hanya terletak pada warna rambut. Tenang, aku tidak sedang menyembunyikan orang yahudi kok.
Oke, kembali ke Liessel, dia sebenarnya adalah anak dari keluarga komunis asal inggris, tidak diceritakan apa penyebab orangtuanya mengirimkannya ke jerman untuk diasuh keluarga lain. Pokoknya tiba-tiba dia harus ke jerman bersama adik laki-lakinyanya. Namun sayang, adiknya meninggal dalam perjalanan di musim dingin saat itu, darah mengalir dari hidung bocah malang tersebut. Pasti kamu heran, di mana letak “book thief”nya? Jadi begini, di usia sekitar 11-12 tahun, Liessel belum juga bisa baca tulis. Buku pertama yang ia punya diambilnya di pemakaman adiknya, milik seorang penggali kubur yang terjatuh dan ditinggal begitu saja oleh pemiliknya. Untungnya ia diasuh oleh Hans, lelaki paruh baya yang berbaik hati mengajarkan Liessel membaca, menulis, bahkan merelakan dinding basementnya diubah Liessel menjadi kamus vocabularynya. Berkat Papanya itulah, Liessel akhirnya mencintai buku-buku dan kata-kata yang mengalir di dalamnya. Sayang, pada masa pemerintahan Hitler, buku adalah satu hal yang dilarang. Pada masa itu, hampir seluruh warga diminta untuk membakar buku-buku mereka. Aku nggak paham apa isi kepala Hitler, dia mau membodohi rakyatnya ya? Lalu kalau semua orang bodoh, apa untungnya bagi dia? Bukannya justru susah mengatur orang-orang bodoh ya? 
Untungnya Rose, istri Hans, adalah buruh cuci pakaian yang bekerja pada seorang bangsawan (duh, aku lupa nama keluarga kaya tersebut). Setiap beberapa hari sekali, Liessel bertugas mengantar dan menjemput pakaian-pakaian milik bangsawan itu untuk dicuci Mamanya. Istri bangsawan itu ternyata berbaik hati merelakan koleksi buku-buku anaknya yang sudah meninggal untuk dibaca Liessel. Tidak untuk dibawa pulang tentunya, hanya dibaca di tempat. Tiap selesai membaca dan menemukan kata-kata baru, Liessel segera berlari pulang untuk mencatat kata tersebut di dinding basement rumahnya. Tahu tidak, aku jadi kepikiran untuk mendekorasi dinding rumahku nanti dengan kata-kata juga. Bukan kamus vocabulary seperti milik Liessel ya, barangkali hanya sebait puisi yang selalu mengingatkanku agar tidak lupa untuk jatuh cinta. Sekadar puisi Sufi, puisi Rumi, puisi Neruda, atau mungkin puisi Tuhan. Karena seperti yang selalu Max katakan, “words are life, Liessel”
Who’s Max? ialah lelaki yahudi yang disembunyikan Hans dan Rose di basement mereka. Kenapa? Karena Hans berhutang nyawa pada ayah Max. Makanya saat Nazi memburu dan menculik semua komunis dan yahudi di jerman, Max meminta perlindungan pada Hans, dan nggak ada yang bisa dilakukan Hans selain membayar hutang budinya tersebut. Liessel belajar bermain kata bersama Max. Lelaki jangkung berambut hitam inilah yang berhasil membuat Liessel mendeskripsikan “cloudy day” menjadi “ it’s a pale day. everything’s stuck behind a cloud, und the sun doesn’t look like a sun, it looks like an oyster.” Btw, aku nggak typo lho, dalam bahasa jerman, and memang diucapkan und. Dan satu lagi, gara-gara film ini, aku jadi pengin punya pacar seperti Max, satu lelaki yang selalu bisa menghidupkan kata-kata dalam kepala dan dada (cie, keren ya kalimatku haha).
Oke, kembali ke topik. Ternyata, si bangsawan ini nggak suka dengan gagasan istrinya yang membiarkan anak miskin membaca buku-buku mereka. Makanya dia “memecat” Rose sebagai buruh cucinya. Liessel pun tidak tahu harus memuaskan hasrat membacanya lewat apa. Lebih lagi, tiba-tiba Max sekarat dan hampir mati karena kedinginan. Liessel bingung, dan satu hal yang bisa ia pikirnkan adalah mencuri buku-buku tersebut. Sebenarnya Liessel tidak sepenuhnya mencuri, ia hanya meminjam tanpa izin. Buku-buku tersebut ia ambil, bawa pulang, dan dibacanya disamping Max yang sekarat, dikembalikan ke rumah bangsawan tersebut, lalu ia mengambil buku lain, begitu seterusnya. Und voila! Dalam beberapa hari, Max pun bisa kembali segar bugar! Bukan, Liessel bukan membaca buku mantra penyembuhan kok, hanya buku-buku cerita yang ternyata menyemangati Max untuk sembuh. Nah, saat sedang mencuri itulah Liessel tertangkap basah oleh Rudy. Sebagai sahabat, Rudy pun bertanya apa yang membuat Liessel mencuri, ya udah deh dari situ Liessel cerita kenapa dia bisa sebegitu terobsesinya dengan buku. Sejak saat itu, Rudy jadi ikut menjaga rahasia keberadaan Max. Bahkan ketika ada polisi patroli yang merazia apakah ada komunis atau yahudi di rumah-rumah warga, Rudy ikut memperlambat langkah polisi tersebut agar Hans bisa menyembunyikan Max di tempat yang lebih tersembunyi.
Setelah sembuh, Max pun pamit pergi karena merasa nggak bisa terus-terusan merepotkan Hans. Sedih juga pas ngelihat Liessel nangis karena Max pergi. Aku juga kalau jadi Liessel pasti udah kepikiran banget, bakal kemana Max pergi, gimana kalau ketangkap Nazi, gimana kalau Max mati, gimanaaaaaa.. Tapi ya udah lah, toh dia masih punya Rudy. Oh, siapa bilang? Ternyata Rudy diminta negara untuk ikut pendidikan kemiliteran. Sedihnya doubel. Tapi tenang, masih ada Papa Hans dan Mama Rose kok. Ups, sayangnya Papa Hans juga ditugaskan maju ke medan perang. Sejak saat itu Mama Rose yang sudah kehilangan pekerjaan dan ditinggal suami pun lebih suka diam dan mengurung diri. Lalu bagaimana cara Liessel menghibur diri? Dengan menulis.  Apa yang ia tulis? Semua yang pernah ia alami sejak kepindahannya dari Inggris ke Jerman. Ditulis di mana? Sebelum pergi, Max memberikan buku kosong ke Liessel untuk ditulis. Sebenarnya itu bukan murni buku kosong sih, itu buku tentang Hitler milik Max yang ia buat blank dengan cat putih (kalau nggak salah ya, aku lupa). Sejak suka menulis, Liessel juga jadi suka bercerita. Contohnya adalah ketika seluruh warga diminta mengungsi sebab ada penyerangan, Liessel coba menghidupkan suasana dengan bercerita tentang kematian adiknya yang dibalut kisah fiksi.
Beberapa waktu kemudian, Rudy dan Papa Hans kembali. Yay! Sayangnya kebahagiaan Liessel tidak bertahan lama. Di satu malam, Jerman diserang lewat udara, satu desa dibom dan akhirnya rata dengan tanah, termasuk rumah Liessel, termasuk rumah Rudy. Kalau bukan karena terlindungi oleh sebuah rak besar, mungkin Liessel juga akan tewas seperti Hans, Rose, Rudy, dan tetangganya yang lain. Sediiihh, sumpah bagian ini sedih banget.. semuanya tinggal puing-puing. Tak ada lagi keluarga, sahabat, apalagi buku. Yang ada cuma Liessel yang nangis meratap-ratap di dekat mayat orang-orang yang ia sayang, orang-orang yang memberinya semangat hidup setelah terpisah dari keluarga kandungnya. Sampai kemudian sebuah mobil datang, seorang perempuan turun. Melihatnya, Liessel langsung berlari memeluknya, ia adalah istri bangsawan pemilik perpustakaan kecil. Yah, setidaknya masih ada harapan hidup untuk Liessel. Dua tahun setelahnya Liessel berhasil menata kehidupan lagi, ia kini bekerja di salah satu toko, entah sebagai apa. Lalu betapa kagetnya ia ketika bosnya memberitahu kalau ada yang ingin bertemu dengannya… dan orang itu adalah Max! yeaaaaayy!! Ternyata Max masih hiduuupp!!
Happy ending deh. Padahal seperti yang kamu tahu, W, aku nggak suka cerita yang berakhir bahagia, tapi demi Liessel aku ikut bahagia. Oke, W, aku tahu ini surat udah panjang dan nggak jelas banget. Mungkin kamu bingung bacanya sebab alurnya yang kubuat berantakan, but hey, kapan aku pernah menulis rapi? Kalau bukan karena harus terus bertukar kabar denganmu, aku juga ogah menulis. Jadi, bagaimana kabarmu di sana, W? Apa film terakhir yang kamu tonton? Ceritakan padaku ya. Aku sudah menulis sepanjang ini, kamu juga harus menulis panjang. Oke? Apa? Nggak mau? Huh, dasar! Ya sudah terserah apa maumu, pokoknya jangan lupa kirimi aku kabar.
Temanmu yang paling kece di alam semesta,
Emma.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *